Teroris Tidak Beragama?


Inspirasi Kita.com - Teroris itu beragama. Yang membuat mereka melakukan terorisme adalah interpretasi atas perintah agama yang mereka yakini.

INGAT, teroris memperjuangkan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Kalau tidak beragama, apa yang mereka perjuangkan sampai-sampai rela dipenjara bahkan dieksekusi mati? Semangat beragama mereka justru menyala-nyala.

Sekarang pertanyaannya, mengapa mereka merasa memperjuangkan kebenaran, menjalankan perintah Tuhan? Karena memang ada ayatnya di dalam Alquran.

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (Alquran Surah Al Anfal :39)

Baca juga:
Problema Umat Islam Indonesia
Bagi kamu yang Pengen Cepet Kaya, Ada Baiknya Tips Cepat Kaya Ini!
Angin Puting Beliung Menggentayangi Jogja, Serem Bener Ihh

"Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman" (Alquran Surah At Taubah :14)

news.okezone.com

"Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (Alquran Surah At Taubah :123)

"Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (Alquran Surah At Tahrim :9)

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." (Alquran Surah At Taubah :29)

www.viva.co.id

Tapi kan, ayat itu turun sesuai konteks dan tidak bisa dipahami begitu saja? Ada penafsiran-penafsiran terhadap semua ayat, jadi tidak bisa ditelan bulat-bulat.

Tepat sekali! Itulah kenapa orang-orang yang mengambil ayat perang, ayat perintah bunuh munafik, musyrik, serta kafir, sampai ayat soal perintah berpakaian itu tanpa dipahami maksudnya disebut kaum TEKSTUAL, bukan KONTEKSTUAL. Mereka mengambil dan menerapkan dalil dari Alquran maupun hadist secara literal, harfiah, sama persis dengan yang ditulis. Kenapa? Karena mereka ingin menjaga kesucian ayat dari penafsiran manusia yang akalnya terbatas dan kotor ini. Setinggi apapun derajat manusia itu. Tidak ada yang bisa menyamai dan memahami Allah sepenuhnya. Jadi, jalankanlah saja seperti yang Allah perintahkan, jangan diubah-ubah sesuai persepsi dan hawa nafsu manusia.

Lalu bagaimana solusinya? Solusinya adalah tafsir. Karena tidak seperti skripsi atau kurikulum, kitab suci tidak bisa direvisi, tidak bisa diubah walau satu huruf pun. Oke, kita memang tidak bisa mengubah bunyi ayat-ayat bunuh, tapi kita bisa mengubah tafsirannya menjadi lebih manusiawi dan diterima oleh dunia, relevan dengan kemajuan zaman. Hal-hal inilah yang ditolak oleh kaum tekstualis.

www.reddit.com

Berarti oknum-oknum teroris kaum tekstualis itu memperburuk citra Islam. Islam kena getah kelakuan mereka.

Ya. Tentu saja.
Tapi... Jangan menggunakan standar ganda juga. Kalian mau citra Islam jadi baik, ramah, dan toleran kan? Tapi di saat yang sama, ustadz dan orang-orang yang menjalankan agama dengan lentur, moderat, damai, makrifat, jadi tarekat/sufi, membuat penafsiran yang lebih humanis terhadap dalil, kemudian mereka semua kalian cap dan kalian bully sesat, liberal, beragama setengah-setengah, bid'ah, syiah, munafikun, tidak kaffah, tidak syar'i.

Kalian memusuhi orang yang justru sedang berusaha menyelamatkan wajah Islam dari citra agama barbar dan kejam. Jadi sebeneranya kalian mau yang merepresentasikan Islam adalah kaum fundamental dan radikal seperti FPI, HTI, Ikhwanul Muslimin, bahkan teroris yang kalian sebut mujahidin pejuang agama itu?

Ya sudah. Terserah.
Berarti kalian satu kaum dengan mereka yang tidak peduli dengan apapun kecuali merasa tengah melakukan kebenaran.

Afi Nihaya Faradisa, penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Sumber gambar sampul: www.liputan6.com
Previous Post
Next Post

post written by: