Benarkah Islam Mengajarkan Kebencian dan Teror?


Saya rasa umat Islam harus berhenti berpura-pura bahwa berbagai aksi teror yang terjadi Indonesia dan banyak negara lain (seperti ISIS) tidak terkait dengan Islam.

Buat saya, sikap semacam itu salah. Buat saya, terorisme itu jelas terkait dengan Islam. Saya tidak ingin mengatakan Islam mendorong terorisme.

Tapi rasanya umat Islam harus mengakui bahwa ada banyak ayat dalam Al Quran yang kalau ditafsirkan secara sempit akan mendorong peperangan dan, bisa jadi, terorisme.

Baca juga:
Teroris Tidak Beragama?
Problem Umat Islam Indonesia
Bagi Kamu yang Pengen Cepet Kaya, Ada Baiknya Baca Tips-Tips Cepat Kaya Ini!

Saya kutip sebagian ayat-ayat Al Quran:

“Dan bunuhlah mereka (orang-orang kafir) dimana saja kamu jumpai mereka . . .” (QS Al-Baqarah 191)

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menetang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. . . (QS Al Mujadilah 22)

“Apabila kamu bertemu (di medan perang) dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka” (QS Muhammad 4)

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, . . . Maka janganlah kamu jadikan siapapun di antara mereka sebagai orang-orang dekat, hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling , tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya,” (QS An-Nisa 89)

www.laporanpenelitian.com

Dan kalau sekarang kata ‘kafir’ di sana ditafsirkan sebagai kaum non-muslim, menjadi wajar kan kalau ada seorang muslim berpikiran sempit menganggap Allah memerintahkan dia untuk membunuh kaum non-muslim?

Mereka yang terkejut dengan betapa ayat-ayat al Quran mengandung semangat kekerasan harus sadar bahwa ajaran Islam dibawa Nabi Muhammad dalam suasana perang dan konflik fisik yang berdarah-darah. Nabi Muhammad sendiri terlibat dalam sejumlah peperangan. Karena itu dalam Al Quran, lazim ditemukan perintah membunuh. Tapi itu semua harus dibaca dalam konteks tertentu. Apa yang ditulis dalam Al Quran bukanlah perintah yang harus dipatuhi secara literal sebagai hukum yang berlaku sepanjang zaman.

Sebagai contoh, perintah membunuh orang kafir di Al Baqarah 191 itu harus dibaca dalam konteks ketika Nabi Muhammad dan para pengikutnya diperangi musuh-musuhnya. Konteksnya adalah: membunuh atau dibunuh. Dan kaum kafir di sana tidak bisa diterjemahkan begitu saja sebagai kaum non-muslim. Kaum kafir di sana adalah mereka yang memerangi Nabi Muhammad di masa ayat itu turun. Di abad-abad berikutnya, ketika muslim dan non-muslim tidak hidup dalam suasana perang, ayat itu harus ditafsirkan ulang sesuai dengan konteks ruang dan waktu.

www.telenews.pk

Yang ingin saya katakan, kalau Al Quran dibaca dengan cara sempit, bisa dipahami kalau ayat-ayat Al Quran yang luhur itu menjelma menjadi buku panduan perang dan terorisme bagi kelompok-kelompok tertentu.

Karena itu, kuncinya menurut saya adalah pendidikan Islam.

Kalau Islam terus diajarkan oleh para pemuka yang mengajarkan umat untuk begitu saja mengikuti perintah mereka, untuk begitu saja menjalankan perintah dalam Al Quran secara apa adanya tanpa pemikiran kritis, tanpa ada dialog dan diskusi, Islam memang bisa menjelma menjadi ajaran yang menakutkan.

Sebaliknya, kalau Islam diajarkan oleh pemuka yang menekankan keberagaman penafsiran, yang menekankan penggunaan alam pikir untuk memahami ayat-ayat Al Quran, yang percaya pada dialog dan diskusi, Islam bisa menjadi ajaran yang membawa kesejahteraan bagi sekalian alam.

Ade Armando, penulis adalah alumni mahasiswa jurusan komunikasi di FISIP Universitas Indonesia


Sumber gambar sampul: www.pulse.ng
Previous Post
Next Post

post written by: