Puisi tentang Hujan, Rindu dan Cinta




Puisi tentang Hujan, Rindu dan Cinta - Puisi tentang hujan ini kutulis saat hujan turun. Hujan tumpah ke bumi begitu saja, dan orang-orang masih bergumul dengan aktivitasnya masing-masing. Hujan kali ini mengingatkanku pada seseorang dalam kenangan. Seseorang yang jauh tak tersentuh sekalipun kita berada pada langit yang sama, bumi yang satu. Ia tampak dalam bayangn tiap tetes hujan.  

Terjebak hujan 






















Di bangku ini,

Aku duduk berteman rinai hujan

Menatap langit putih,

Mengurai waktu detik demi detik,

Sembari mendengarkan aliran air sungai Gajah Wong,

Kendaraan tiada jenuh berlalu-lalang,

Seperti tak mau tahu hujan,

Satu dua kali pedagang makanan berlalu

Tiga dan empat,

Orang-orang gegas berjalan terhunjam hujan,

Aku masih duduk di sini

Setia mendengar gemericik aliran air sungai,

Menghayati tiap tetes hujan yang tumpah,

Bersabar menatapmu

Menjabat erat tanganmu

Dan menti alun nada sendu

Dadaku berdegup kencang

Semakin kencang,

Tak peduli asap kendaraan di jalan

Napasku mulai sesak,

Aku mulai lunglai,

Tak mampu membendung kerinduan ini,

Aku pandang ke deppan,

Kendaraan masih sibuk berlalu-lalang

Ternyata hari masih siang,

Rinduku masih bergelayut,

Aku terjebak hujan siang ini,

Sayang,

kau tak di sini,

Jogja, 24 September 2016



Hujan Belum Kunjung Reda
















Hujan siang ini belum juga reda,

Rerintiknya sambung-menyamung,

Bak  rangkaian gerbong kereta,

Ah, kendaraan lalu-lalang itu seperti orang buta,

Tak mau hirau akan hujan

Ah, semua seolah menertawakanku

Yang masih saja menghiraukannya

Dia yang tak pernah melihatmu,

Menatapmu,

Atau menyentuhmu, 

aku.

Kau yang coba bernyanyi,

Dia berlalu pergi,

Kau yang suguhkan secangkir kopi,

Dia minta capucino,

Kau beriakan malammu,

Dia malah asyik mamandang orang tanpa kau tahu,

Dia memang menyukai pertemanann ini,

Berbunga-bunga bermimpi masa.

Senyatanya,

Itu hanya drama saja

Ah, hujan mulai berhenti,

Aku harus berkemas

Merapihkan baju,

Memakai alasku kembali

Aku lanjutkan menyambung sepuluh detik ke depan,

Menatap ramainya jalan,

Meski tanpa dia

Dia yang tak pernah menjadi kamu,

Menganggapmu taka da,

Aku harus berjalan sekarang

Meski kakiku terasa berat,

Apalagi hatiku,

Terus berjalan,

Menuju arah sore ini.

Jogja, 24 September 2016

Semangat gaes menghadapi musim hujan. Hujan merupakan salah satu musim di negeri ini. Perlu kamu tahu? Musim hujan merupakan momen saat membahagiakan bagi para petani. Hujan tak identik dengan sedih dan apa yang kau bayangkan negatif ,sob.



Sumber Gambar: http://artidarimimpi.com




Previous Post
Next Post

post written by: