Internet sangat berbahaya bagi semua usia


    Dalam tuliasan kali ini kita libur dulu gaes membahas soal tokoh-tokoh yahut Indonesia di negeri orang. Sebenarnya ini lebih ke curhat sih. Namun di alam nyata ini sob. Diakui atau tidak sedikit banyak telah menjadi kebiasaan umum. Yah ujung-ujungnya saya mewakili suara mayoritas dah, hehe. Saya anjurkan sebelum membaca tulisan ini sob, tariklah nafas dalam-dalam kemudian hembuskan pelan-pelan.Usahan tak ada bunyi  atau gangguan apapun yang bisa merusak konsentrasi sobat. Barangkali tulisan ini tak begitu panjang, bahkan sama sekali tak bermakna. Seluruhnya itu saya kembalikan ke kalian semua gaes.

    Ada dunia dalam dunia. Mungkin itu kata yang tepat untuk saya jadikan pengantar kali ini sekaligus judul. Betapa seringnya kita hidup di dunia nyata ini namun kita tak bisa menikmati, alih-alih menikmati melihat, mendengar pun kita sering tak mampu. Kita mempunyai ratusan teman bahkan sampai ribuan. Pada kenyataannya kita masih kesepian. Teman yang dapat kita pandang bungkusnya saja tanpa bisa kita rengkuh. Teman yang sama sekali tak pernah tahu bagaimana kita senyatanya. Kita dapat ngobrol tiap hari, tiap jam bahkan tiap detik dengan teman kita asal sama-sama terhubung dengan satu sambungan dunia khayal, internet. Lebih gilanya kita, kadang-kadang kita percaya dengan teman yang sebenarnya tak kita kenal walau terlihat dekat. Alhasil keselamtan kita jadi taruhannya. Survei menyatakan orang yang banyak memiliki teman di dunia maya atau media sosial cenderung memiliki teman yang sedikit di dunia nyata.


    Banyak hal-hal berarti yang kita lewatkan karena kita terlalu sering sibuk memelototi gadget. Perhatian kita tersedot ke layar bermata satu ini. Di terminal,di dalam bus di hlte, di setasiun dan di tempat umum lainnya kita sering menghabiskan pandangan kita ke bawah , yaitu melihat layar. Saat kita terlalu asyik dengan layar itu. Banyak hal-hal indah yang kita buang begitu saja. Ada juga hal yang selayaknya kita lakukan di sebuah forum diskusi tersendak gara-gara dunia lain kita ini. Pengalaman saya sendiri sob, seringkali saya temui pemandangan yang sama ketika bertamu ke rumah temen-temen nyata saya. Mereka lebih banyak diam dan fokus ke gadgetnya daripada sekedar ngobrol dan menatap muka saya. Sudah dapat sobat gambarkan sendiri, kami berdua akan saling diam. Membisu seperti tak punya mulut seolah-olah jika suatu saat kita bicara soal pertemuan ini sama halnya tak pernah terjadi. Semuanya akan cepat menguap bagai tak pernah ada. Alangkah baiknya jika kita mau berdialog tentang kabar masing-masing disambung dengan diskusi-diskusi ringan soal penglaman masing-masing. Bukan tak mungkin suatu saat akan ada manfaatnya. Dan keakraban semakin terjalin.

   Korban internet bukan hanya berasal dari orang usia dewasa saja. Mirisnya anak-anak yang seharusnya menikamati masa-masa indahnya pupus karena ini. Berbeda dengan ketika kita kecil dulu. Sepulang dari sekolah, kita lempar tas kita yang penuh buku-buku ke atas meja. Secepat kilat pakain seragam kita ganti. Bermain kelereng bareng teman, bertengkar gara-gara kita merasa dibodohi, bermain umbul, bermain layang-layang di kala kemarau. Seolah matahari siang tak terasa menyengat. Berburu ikan dan belut di sawah pas musim penghujan. Hingga matahari mulai hilang baru-baru kita sadar kalo ini waktunya pulang. Aneka rasa itu sungguh terbalut menjadi kue istimewa yang bernama kenangan. Dan saya kira itulah masanya belajar dan bermain. Kalian merasakannya sob? Kontras sekali dengan generasi kini. Anak-anak lebih suka bermain game online, sibuk dengan gadgetnya, bermain dengan plastation. Masa yang seharusnya digunakan untuk bersosialisasi dengan kawan dan lingkungannya terbuang begitu saja. Hingga pun kebersamaan dan tenggang rasa hampir-hampir menjadi hal yang punah di dunia nyata ini.



  Bukan sesuatu yang tak mungkin generasi masa depan adalah generasi idiot. Smartphone lah yang pintar. Betapa konyolnya, kita di perbudak buatan kita sendiri. Apapun itu sob, jika takarannya berlebihan akan berujung tidak baik. Mari kita jaga diri kita, generasi kita, anak-anak kita dan orang-orang terdekat kita. Gunakanlah internet terlebih medsos atau media sosial semisal, FB, Twitter,path dll sewajarnya saja. Atau jika tidak kita akan terasing di dunia kita sendiri.



  Apapun tanggapan sobat sekalian tak ada maksud saya untuk menggurui dan memaksa untuk ikut apa yang saya tuliskan di atas. Sebenarnya banyak pula manfaat internet, tergantung kebijaksanaan kita atau akan menjadi bumeranng bagi kita sendiri. Pada akhirnya berujung pada satu muara simpulan. Sesuatu yang berlebihan akan menjadi kurang baik. Semoga ini bisa menjadi bahan renungan dan pertimbangan kita dalam mengarungi era digital ini. Save Our Generations. Matikan layar. Semoga bermanfaat, salam inspirasi sob.


Previous
Next Post »

2 komentar

Click here for komentar
Iron Bird911
admin
5 August 2015 at 23:03 ×

waduuhh gmn ntr generasi kita ya gan?
ok makasif infonya

Reply
avatar