Puasa Ramadhan dan Menutup Warung Makan



Puasa Ramadhan (Tidak) Identik Menutup Warung Makan


          Pada Ramadhan kali ini tentu ingatan kita masih lekat dengan  kasus ibu Saeni, seorang ibu pedagang makanan di Serang Banten beberapa hari yang lalu, Jumat, (10/6). Satpol PP merazia barang dagangannya hingga menyitanya tanpa ampun karena berjualan pada siang hari di bulan puasa.
          Simpati masyarakat pun bergulir. Sumbangan dana yang dipelopori oleh Dwika Putra telah mencapai lebih dari 139 juta rupiah. Dwika mengatakan bila motifnya hanya karena tidak tega dan kasihan. Ini menggambarkan bila nurani dan toleransi di negeri ini masih hidup.
Islam Rahmat untuk Semua
          Islam sendiri merupakan agama rahmat (cinta kasih). Nabi Muhammad diutus dimuka bumi bukan menjadi rahmat bagi kaum muslimin saja, melainkan bagi alam semesta. Sama halnya yang termaktub dalam Q.S Al-Anbiya ayat107, Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semetsta.
          Tentu pernyataan rahmat bagi alam semesta ini menjadi pembahasan yang menarik. Apakah itu sesama kaum muslimin, sesama manusia atau pun sesama makhluk ciptaan Tuhan. Kalau kita sudah sepakat demikian, kita tidak akan mau mengusik ketenangan orang lain hanya demi sepatah kata penghormatan.
          Menyuruh menutup warung di bulan puasa demi penghormatan sepihak terhadap suatu golongan adalah tindakan yang kurang tepat. Kita hidup berbangsa dan bernegara berdampingan dengan umat beragama lain yang tidak menjalankan ibadah puasa. Bahkan kaum muslimin sendiri ada yang tidak berkewajiban berpuasa, seperti anak-anak, orang sakit, musafir (orang yang bepergian jauh), perempuan haid, hingga perempuan menyusuhi.  Alangkah egoisnya kita, bila menyuruh orang yang tidak berkewajiban puasa untuk berpuasa.
          Belum lagi para pedagang kecil yang sehari-hari menggantungkan nasibnya dari hasil dagangannya. Ibaratnya kalau hari ini tidak berjualan besoknya tidak bisa makan. Bila mereka dilarang berjualan apalagi barang dagangannya disita. Apalagi kalau tindakan penutupan itu dilegitimasi oleh aparatur negara.  
Pendangkalan Makna Puasa          
          Sebagai umat Nabi Muhammad seharusnya kita meneladani akhlak beliau yang tidak diskriminatif apalagi gila hormat. KH Ahmad Musthofa Bisri, seorang ulama muslim pernah meyatakan dalam tulisannya perihal penutupan warung di bulan Ramadhan. Begini kutipannya,“Apakah hanya pedagang-pedagang warung yang harus menghormati Ramadan dan mereka yang merusak tatanan justru bisa terus melenggang melecehkan kesucian Ramadan? Atau apakah sebenarnya maksud kita dengan penghormatan terhadap Ramadan itu?
          Dari peryataan lewat pertanyaannya itu bisa dipetik tiga poin. Yang pertama, ketika warung-warung saja yang dipaksa tutup untuk menghormati Ramadhan, hal ini dipahami bahwa diskriminatif terhadap pedagang-pedagang. Karena sebenarnya esensi puasa Ramadhan justru lebih kepada seberapa tangguh insan muslim mengendalikan diriya. Meanahan nafsunya dari segala perbuatan tercela yang bias merusak puasanya. Bukan hanya sekedar menahan untuk tidak makan dan tidak minum.
          Kedua  yakni pernyataan, mereka yang merusak tatanan justru bisa terus melenggang melecehkan kesucian Ramadan. Kalimat ini menegaskan kalau negara atau umat islam jangan hanya fokus pada yang sifatnya tampak diluar atau dangkal.  Sehingga orang-orang yang melakukan maksiat  serta melanggar aturan agama dan negara yang justru mencederai makna ramadhan bisa bergeak bebas.
          Ketiga, apakah sebenarnya maksud kita dengan penghormatan terhadap Ramadan itu. Sudah benarkah logika kita melakukan penutupan warung demi menghormati bulan Ramadhan serta juga orang yang berpuasa. Atau mungkin itu hanya dalih kita (muslimin) yang minta dihormati. Padahal ibadah puasa merupakan ibadah yang samar dan jauh dari pamer apalagi ingin dihormati. Pertanyaan saya, bisakah Anda membedakan mana orang yang sedang berpuasa dan mana yang tidak?
          Lebih jelasnya, mari kita pahami lagi makana puasa dari bahasa arab shoum berarti menahan. Di sini yang dimaksud menahan, yakni menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Bisa juga mengendalikan hawa nafsu kita. Oleh sebab itu, kalau logika berpuasa hanya dikaitkan dengan makan dan minum yang implikasinya berdampak pada kebijakan menutup warung. Makna puasa telah mengalami pendangkalan makna.
          Saya pribadi mempunyai pengalaman. Namun bukan saat bulan Ramadhan. Suatu dini hari perut saya lapar sekali. Mau makan tetapi tak ada nasi yang tersisa. Mau beli makanan tapi tidak ada warung yang buka. Karena tempat tinggal saya di pedesaan yang sepi saat menginjak jam sembilan malam ke atas. Akhirnya saya putuskan untuk menahan lapar saya hingga pagi harinya ibu saya memasak nasi. Sungguh lapar sangat menyiksa saya waktu itu.  Padahal cuma beberapa jam saja.
Previous
Next Post »