Cerita Kita Sama atau Kita Sama, kan?

Selepas solat dhuhur di Masjid kampus, karena kupikir larangan untuk tak tidur di masjid kampus ialah perintah. Maka aku baringkan saja tubuh dengan kaki menjulur ke kiblat, tepat di tepian kiri masjid, lalu kupejamkan mata.

Suara berisik kelompok njagong sebelah, memabangunkan dan menyadarkanku kalau sudah sejam lebih aku terlelap. Mataku yang masih riyep-riyep langsung terang seketika, begitu melihat seseorang, yang tentu bukan gadis cantik nan berparas manis. Tentu bukan Natasha Wilona. Melainkan sesosok laki-laki kurus, berpakaian baju muslim sederhana. Kubayangkan jika dia ini malaikat yang akan memberi wahyu kepadaku , dan menyuruh aneh-aneh, semisal bulan Ramadhan tiga kali mungkin setahun. Dan ternyata bukan, memang ia seseorang manusia sungguhan
Sumber Gambar: https://pbs.twimg.com


Yang paling kuingat adalah bagaimana ia membuka percakapan dengan manis.

"Habis istirahat ya, Mas. Saya juga alumni kampus ini,"ujarnya tanpa ragu.

Aku hanya manggut-manggut mendengarnya. Secepat kilat, ia langsung meneruskan pembicaraannya.

"Di Jogja ini di segala penjuru tempat ramai semua ya, Mas. Termasuk ruang sunyi pun tak ada,  barang sejengkal,"

Sambil mesem, aku tanggapi pernyataan pria yang memperkenalkan dirinya, bahwa namanya Gio, tiga huruf. Seperti namaku Aan, yang aku mafhumkan kepadanya dengan ringan.

"Wah, ini kan Jogja, Mas. Dan ia kota, tempatnya keramaian,"jawabku sekenanya

Aku sendiri agak geli saat ia berbicara ke ranah rahasia perusahaan. Ya kalau istilah kau sensitif lah. Dan kukira libidonya sangat konsen kalau bicara  dunia konsep yang pastinya, indah nan melangit.
Dan ternyata, ...baca sampai tuntaslah,

Batinku,
"Mungkin ini Mario Teguh kiriman Tuhan sore ini, Haha otak saya mulai kegeser"

Ah, lagi -lagi ia mulai lagi. Menyinggung urusan perusahaan.  Belajar akademik yang tentu bagi anak semester dua,"ceritanya tadi di awal dia nanya aku semester berapa gitu"- sedang giat-giatnya belajar, masuk kuliah, dan belajar  bersenyawa dengan lingkungan. Entahlah, mendengarkan yang ini aku hanya mesem  nyengir kuda.

Karena itu, kau yang baca ini, mungkin yang merasakan..

Aku masih manggut-manggut mendengarkan kata-katanya. Ia melanjutkan lagi, kusebut saja tiap ucapanya itu "kata sejuk". Setelah ia menjawab pertanyaanku, ternyata ia alumnus jurusan Matematika Fakultas Saintek UIN Suka. Ngomongya ia habis dari UII sekalian sholat di UIN sini, sekaligus nostalgia katanya. Aku kira tak perlu tanyakan panjang lebar mengapa ia Sholat dan ingin bernostalgia.

Hehe santai disit go Bro, iki ceritane tak lanjutno maneh.

"Mungkin usia kita tak terpaut jauh, namun kau kan harus menaiki tangga demi tangga yang telah kulalui,"

Entah berguru darimana Mas ini mulai pandai mengarang cerita. Kan kalau aku wajar, karena  suka ngarang cerpen, meski pun cerpen-cerpenan yo. Sudah jelas-jelas ia tahu aku semester dua dan dia lulus tahun 2015 kemarin bulan Agustus dan kini telah berkarir di BMT daerahnya sana Wonosobo. Eh,lha kok diulangi lagi.

"Kata sejuk" ia lantunkan lagi,
"Jadi masalah demi masalah, sudah pasti ada. Tanggungan dan beban hidup akan senantiasa menari-nari membelai tiap jengkal usiamu. Mungkin semester dua, akan berbeda lagi masalahnya dengan semester tua. Pikiran serba mendidih karena skripsi dan mikir mau ngapain setelah wisuda,,"ia sedikit tekan napasnya agar bagian ini aku amati baik-baik.

Sebenarnya pun aku mau menyangkal, tapi karena tak enak aku diamkan saja. Ia melanjutkan "kata sejuknya".

"Sudah jelaskan! Masalah itu akan ada selama kau hidup, cuma bagaimana kau menjalani dan menikmatinya. Bukankah dengan masalah kau akan terdidik dan lebih dewasa,"kali ini ia lebih santai irama pengucapannya.

Ia diam, aku diam. Suasana sedari tadi memang ter-setting sejuk, karena kata-katanya sejuk.

Aku mencoba mengganggu statemen-statemen sejuknya dengan isu-isu yang kupaksakan. Pun mencoba mengatur jalur pembicaraan yang lain,

Batinku,
 "eh wes madang durung? Ayo tak melu aku tok Burjo nek mbok bayari, hahaha".

Aku terangkan ke dia bila senyatanya dulu, aku ingin masuk ke kampus untuk jurusan komputer atau biologi. Aku ungkapkan saja cerita hingga aku nyasar dan salah masuk jurusan ke UIN Sunan Kalijaga ini dengan harapan setidaknya kita sama-sama menyukai eksak dan akhirnya ia mau berpanjang lebar dengan eksak. Kan bisa nyambung pikirku,

Hadeh, aku mesem lagi, kali ini mesem sedikit asem. K-a-k-e-a-n--ya. Karena ia justru malah menyemai pembicaraan tentang kesalahanku masuk jurusan di kampus.

Batinku,
"Kulhu ae, Lek"



Sumber Gambar: https://scontent.cdninstagram.com

Ia melanjutkan ungkapannnya tadi.
"Pikirkanlah lurus-lurus, dalam kehidupan ini hanya ada dua pilihan. Kau mau pilih yang mana, terserah asal bersiaplah akan konsekuensinya. Aku tegaskan, kau itu masuk tarbiyah bukanlah kesalahan. Buat apa dibuat jurusan dan prodi di kampus kalau memang tak bermanfaat. Hanya saja 'kekurang nyamananmu semata'. Tergantung saja kau menjalaninya. Mungkin saja ini jalan Tuhan yang tak sampai kau duga, bisa saja kebaikanmu di sana,"

Jlebbbb,  Aku berpikir jika memang ini berkah menjelang bulan Ramadhan. Entahlah, jarang-jarang  dapat siraman "kata sejuk".

Tanpa aku komentari, pria yang menyatakan berharap aku dan dia dipertemukan kembali, dan mendoakanku tambah berilmu dan kebaikan, lalu melanjutkan 'kata sejuknya'.

"Bahkan, ini sangat mungkin mengantarkanmu kepada seorang wanita yang mungkin saja sanggup memikat hatimu. Lhoh, bukankah bila begini kondisinya setelah sarjana kelak kau hanya akan menjadi buronan mertua. Oh betapa indahnya hidup ini,"ujarnya pakai masang wajah berapi-api.

"Oh indahnya hidup ini,"ulangnya menggodaku

Tanpa pikir panjang lidahku gatel dan berucap,
"Duh baper inyonge, Mas"

Kulanjutkan dalam batin,
"Tapi ya ndak usah ungkap-ungkap kejombloan orang gini a, Mas,. Heleh mentang-mentang sudah melewati sesi-sesi jomblonya leh. Ndase disentak cewek ae wedi kok jek arep jodoh-joddohan" gerutuku

Aku sedikit ragu statemennya, kalau-kalau orang yang masuk jurusan namun tak se-keinginan, bukanlah salah jurusan namanya. Melainkan, kurang nyaman saja. Hal lain yang aku garis bawahi adalah sebuah kenyamanan. Ya, k e n y a m a n a n. Dan kaitannya dengan kebahagian hidup. AhSu dahlah,

Eh, aku malah inget statemen yang dalam film Ngenest. Bukankah "satu hari yang kau lakukan sekarang, merupakan satu hari yang kau pinjam di masa depan".

Ah, persetan apa kata film. Ini tadi kan kisah bagaimana tentang "kata sejuk" dari seorang pemuda  yang sewaktu mahasiswanya pun masih mau mengaji, tepatnya di pondok daerah Krapyak, Bantul, Jogja yang kemudian  mengatakan,

"Ya, yang kau lalui dan aku lalui sebenarnya tahapannya hampir sama cuma konteksnya aja yang beda. Kalau ibarat tangga kau daki satu-persatu. Atau pun jika kau pembuat tangga, buatlah tangga-pertangga yang kuat dan kokoh, agar kelak tangga yang bawah tak roboh saat kau naiki tangga yang atasnya,"

Aku pun melongo mendengarkan statemen-nya yang satu ini. Entah apa maksudnya, Njlimet Bro. Barangkali engkau yang baca tulisan ini tahu, bahkan lebih memahami. Aku sangat yakin,

Sebelum pamit dan minta diri, ia bertanya kepadaku.
"Kedua orang tuamu masih hidup bukan?"

Aku mengangguk

"Jika begitu bersyukurlah, sudah berapa lama kau tak bersyukur, ayolah rasakan kehangatan bercengkrama dengan keluarga, dan selamat berjuang,"

Kali ini aku mesem, seperti yang pertama dan ke dua tadi.

Jangan katakan kalau yang ku ujar ini adalah masalah dan ceritamu? Sante wae lhoh, Makanya jangan ngantuk terus, ayo raup.

Previous
Next Post »